Pencarian

Kendurkan Senar

Selain membersihkan senar gitar, perlu juga mengendurkan senar gitar bila tidak dipakai lama. Ini bertujuan agar neck gitar tidak melengkung. Senar gitar yang disetel adalah tali yang ditegangkan, dan penegangan ini akan menarik dua sisi yang menegangkan. Pada gitar, tarikan akibat ketegangan lini bisa membengkokkan neck, walau kemungkinannya kecil.

Konser Linkin Park Puaskan Penggemar Di GBK

Konser yang berjudul "A Thousand Suns: World Tour 2011" ini digelar di Jakarta, Rabu (21 September) malam. Dalam konser tersebut, band yang digawangi Chester Bennington (vokal) Mike Shinoda (keyboard), Joe Hahn (backing vokal), Dave Farrell (bassis), Brad Delson (gitaris) dan Rob Bourdon (drummer) ini menyanyikan sekitar 19 lagu diantaranya "Papercut", "Numb", "Crawling" dan "Bleed It Out" yang dimedley dengan refrain single "A Place For My Head".

Avenged Sevenfold

Konser Avenged Sevenfold saat live di Bangkok

NOAH

Setelah tiga tahun berjalan pincang, akhirnya Noahpun ukir rekor.

Konser Musik Klasik

Kalau konser lainnya cenderung harus rame biar seru tetapi lain dengan konser musik klasik, dimana ketenangan harus dijaga sepenuhnya supaya tiap nada dari lagu itu terdengar sempurna.

Rabu, 17 Oktober 2012

Sergei Rachmaninoff Vassilievich


Sergei Rachmaninoff Vassilievich lahir pada 1 April 1873, di Semyonovo, perkebunan besar di dekat kota kuno Novgorod, Rusia. Ayahnya, Vassily Rachmaninoff, adalah seorang perwira tentara dan ibunya adalah ahli waris yang kaya. Rachmaninoff berasal dari keluarga berbakat musik, baik ayah dan kakeknya bermain piano. Dia mulai belajar piano pada usia 6 dengan ibunya yang seorang pianis terlatih.
Ayahnya berjudi, minum, dan menghambur-hamburkan uang istrinya. Dia meninggalkan keluarganya ketika Sergei berusia sembilan tahun. Dan adik perempuan Sergei, Sofia, meninggal tak lama setelah itu. Keluarga Rachmaninoff terpaksa melelang Semyonovo untuk membayar utang mereka dan pindah ke St Petersburg, dimana Sergei terdaftar di konservatorium untuk melanjutkan studi piano.
Sergei adalah anak bermasalah, namun memiliki talenta luar biasa dalam permainan piano. Dan pada usia sembilan ini, dia mampu masuk di College of Music di St. Petersburg. Karena merasa kemampuannya diatas rata rata, dan juga tumpukan masalah keluarganya, Sergei tidak banyak fokus pada kuliahnya, sayangnya karena itu, pada tahun 1885 dia gagal pada SEMUA ujian di ST. Petersburg dan karena masalah kedisiplinan, Sergei dipindahkan ke Moskow untuk "didisiplinkan" bersama Nikolai Zvereff, Zvereff merupakan salah satu guru musik terkemuka yang mengajar di Konservatorium Moskow.
Empat tahun tinggal bersama Zvereff membuka pandangan baru bagi Sergei. Namun pada tahun 1889 hubungan mereka "putus" karena Zvereff menolak memberikan ruangan pribadi bagi Sergei untuk menulis. Sergei pun pindah belajar musik dan tinggal pada sepupunya, Alexander Ziloti.
Pada tahun 1892, Sergei lulus dari konservatorium dengan kehormatan tertinggi dan pujian dari Tchaikovsky langsung pada proyek tesis Rachmaninoff , "the opera Aleko". Sergei bekerja perlahan terus menerus untuk memperoleh pengakuan dan pujian sampai 1897, ketika premier "Symphony No.1 in D minor" nya mengalami penolakan mentah mentah yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Karena kegagalannya itu, Sergei menderita kemunduran psikologis yang parah yang menyebabkan hilangnya seluruh kepercayaan dirinya dan membuat dia tidak mampu menulis selama tiga tahun. Butuh serangkaian sesi hipnotis bersama Dr.Nikolai Dahl untuk mengembalikan kepercayaan diri pada kemampuan kreatif Sergei.
Karena pengobatan Dr. Dahl, pada tahun 1900 dia mulai membuat "Piano Concerto No. 2″ yang didedikasikan khusus untuk Dr. Dahl. Setahun kemudian, setelah "Piano Concerto No. 2″ nya selesai, ia menikahi sepupunya sendiri, Natalya Satina. Irina putri mereka, yang kemudian menikah Pangeran Pyotr Volkonsky, lahir pada tahun 1903.
Tahun 1909, Sergei mengunjungi Amerika Serikat untuk pertama kalinya pada tur konser dan disambut dengan tangan terbuka. Setelah itu, ia selalu mengunjungi Amerika setiap musim, meskipun ia baru saja memiliki tempat tinggal utama di Ivanovka, estat warisan yang baru ia terima di Rusia.
Setelah Revolusi Oktober 1917, Rachmaninoff pindah sebentar ke Stockholm, namun karena kecintaannya pada Amerika Serikat, ia pindah ke New York pada 1918 dan membeli rumah di sana, di Riverside Drive dan dihiasi meniru suasana Ivanovka, pada tahun 1921. Pada sekitar 1910an, Sergei diduga berhubungan denga Nina Khosetz.
Sebelum 1918, Rachmaninoff menulis kurang lebih 135 komposisi, tapi karena "his self-imposed exile" (seseorang mohon jelaskan) hanya sekitar sembilan atau sepuluh karyanya yang dikeluarkan. Musiknya, bagaimanapun, tetap khas Rusia, walaupun ia adalah seorang penentang keras rezim Komunis baru, publik mengumumkan kritiknya di New York Times. Sergei Rachmaninoff meninggal di Beverly Hills pada 28 Maret 1943, hanya beberapa minggu setelah mendapatkan kewarganegaraan Amerika-nya dan hanya lima hari sebelum ulang tahun nya ketujuh puluh.

Saya suka banget sama Rachmaninoff, dan cukup aneh buat kalangan pecinta musik klasik, karena musik Rachmaninoff sangat halus, dan kurang "khas". Berbeda dengan Tchaikovsky, Vivaldi atau Beethoven. Semoga kalian, yang suka musik klasik, bisa mencoba jatuh cinta sama Rachmaninoff :)

Rabu, 03 Oktober 2012

Sejarah dan Perkembangan Piano

Piano merupakan alat musik yang bisa dimasukkan dalam kategori alat musik tertua, sekaligus termahal di dunia. Banyak legenda musisi papan atas legendaris sekelas Bethoven, Mozart dkk yang menggunakan piano sebagai alat musik utamanya.

Sejarah Piano


Asal mula kata piano sebenarnya berasal dari bahasa Italia, yaitu pianoforte. Piano itu sendiri dibuat oleh Bartolomeo Cristofori pada tahun 1720-an. Awal mula piano diciptakan, suaranya tidak sekeras piano yang dapat didengar pada abad 20-an. Pasalnya, tegangan tuts piano kala itu tidaklah sekuat piano yang sekarang.

Awalnya, piano dikembangkan dari alat musik kecapi. Perbedaannya, kecapi dimainkan dengan dipetik. Sedangkan piano ditekan tuts-tutsnya.

Secara umum, piano termasuk ke dalam kelompok musik instrumental. Piano memproduksi suara dari getaran papan suara yang volumenya dapat diperkuat (dapat diatur besar kecilnya).

Secara luas, piano di dalam musik dapat menjadi performa pada nyanyian tunggal dan sebagai pengantar nyanyian solo. Dalam artian, piano dapat hidup dan mengiringi penyanyi tanpa bantuan atau iringan alat musik lain. Suara yang dihasilkan piano sudah dapat mewakili alat musik lainnya.

Meskipun demikian, piano akan lebih berarti lagi didengar dengan bantuan alat musik lain. Yang perlu ditekankan di sini, piano dapat mengalun indah tanpa bantuan alat musik lain. Tidak sama halnya dengan alat musik lain, yang kurang enak didengar tanpa dilengkapi piano. Banyak musik-musik instrumen yang bersinar karena andil dari piano.

Perkembangan Piano

Pada akhir periode 1790 sampai 1860, piano era Mozart mengalami perubahan yang hebat, dimana instrumen modern semakin terlihat memimpin. Pada revolusinya, piano banyak mendapat dukungan dari komposer dan pianis-pianis terkenal yang mengiringi perkembangannya. Sehingga piano dalam musik semakin memiliki power yang tinggi. Teknologi dalam pembuatan piano pun semakin menggunakan alat-alat berteknologi tinggi.

Dalam beberapa waktu, gaya suara piano meningkat. Dari 5 oktav menjadi 7 1/3 (atau bahkan lebih) oktav, ini menandakan piano semakin modern. Kemajuan teknologi ini banyak bersumber dari perusahaan di Inggris, Broadwood. Selama bertahun-tahun, instrumen buatan Broadwood mengalami perkembangan menjadi lebih banyak jenisnya, lebih baik suaranya, juga dikemas secara baik dan rapi.

Perusahaan Broadwood mengirim piano mereka kepada Hadyn dan Bethoven. Cakupan kemampuan piano yang mereka kirim itu lebih dari lima oktaf. pada tahun 1790an, tahun 1810 menyusul menjadi enam oktav, sampai pada tahun 1820 akhirnya menjadi tujuh oktav. Sampai-sampai banyak perusahaan pembuat piano mengikuti trend ini.

Bercerita tentang piano sama halnya seperti menceritakan seorang superstar. Seperti layaknya seorang superstar, piano yang terkenal itu juga banyak dikagumi berbagai kalangan. Piano bisa masuk dalam industri musik dan perfilman, yang dengan mudahnya dilihat dan didengar siapa saja.

Sejak tahun 1830-an, konser piano selalu diidolakan banyak penggemar musik. Setiap para pianis terkenal menggelar konsernya, kerap kali dipadati oleh penggemar musik. Mereka selalu berbondong-bondong mengantri tiket konser piano, karena bagaimanapun juga, piano bisa masuk ke hampir seluruh aliran musik.

Contoh pada ke-27 konser piano yang digelar Mozart. Konser ini benar-benar merupakan konser musik instrumental yang tanpa bantuan iringan penyanyi ternyata tetap dapat lebih dinikmati. Inilah kehebatan yang dimiliki alat musik piano.

Permainan pada konser piano bisa terlaksana dengan baik secara solo (sendirian), duo (berdua), trio (bertiga), maupun kuartet (berempat). Hal ini telah dibuktikan sejak lama oleh para pianis terkenal seperti Mozart, Hadyn, Beethoven, Schubert, Schumann, Mendelssohn dan Brahms.

Jenis-jenis piano

Grand Piano


Inilah piano yang sebenar-benarnya. Berasal dari konstruksi kayu mengkilap, dengan tuts berjumlah 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Merk yang paling eksklusif dari jenis ini adalah Steinway, sedangkan yang biasa di temui di Indonesia adalah Yamaha Grand Piano. Harganya sama dengan satu unit mobil mewah, 400 jutaan ke atas.

Upright Piano


Masih di jajaran kategori piano akustik, upright piano juga berkonstruksi kayu, 88 tuts, kotak akustik serta senar-senarnya. Tetapi yang membedakan dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat. Jadi jika tidak terlalu punya tempat untuk meletakkan Grand Piano dan masih ingin menikmati suara dentingan piano akustik asli, upright piano bisa dipilih.


 Digital Piano


Piano akustik, untuk mendapatkan kualitas yang prima memerlukan perawatan yang sangat merepotkan. Selain suhu tertentu diperlukan untuk menjaga ketegangan senar-senar nada piano, setiap kali piano model ini dipindahkan, nada-nadanya harus di tune ulang.

Adalah sebuah terobosan Kawai dan Yamaha yang memperkenalkan synthetizer pada tahun 80-an. Sebuah sampling suara piano memungkinkan bunyi piano dihasilkan dari alat-alat elektronik yang dialiri listrik. Teknologi synthetizer berkembang sehingga digital piano sendiri memiliki kategorisasi tersendiri: digital piano, keyboard, dan synthetizer.

Digital piano ditandai dengan rentang nadanya yang sama dengan piano akustik biasa, yaitu sepanjang 88 nada. Model tuts-nya masih menggunakan tipe gradded-hammer, atau efek yang Anda rasakan ketika menekan tuts piano. Berat, dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Model yang paling populer di panggung contohnya adalah Roland RD-700 atau RD-300, sedangkan untuk pengguna rumahan, Yamaha seri Clavinova adalah contoh yang paling populer.


Keyboard

Apa beda keyboard dengan digital piano? Hal pertama yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan gradded hammer, melainkan model touch response. Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa Anda rasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan, dan rasanya seperti menekan plastik tanpa sensasi menekan tuts piano akustik. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Memotong nada atas dan nada bawah piano, dan menyisakan nada tengahnya saja.

Tetapi kelebihan keyboard adalah kemampuannya menghasilkan suara bermacam-macam alat musik. Ia juga memiliki kemampuan untuk memainkan irama dengan variasi yang banyak, sehingga kita bisa bermain diiringi sebuah band lengkap dengan bantuan hanya satu unit keyboard saja.


Synthesizer 


Seperti namanya, alat ini adalah pembuat suara buatan yang handal. Hal yang paling kelihatan mencolok adalah rentang nadanya yang mungkin hanya dua oktaf saja, memiliki banyak panel-panel instrumen seperti equalizer, mixer, bender, dll pada papan keyboardnya. Alat ini memang ditujukan untuk membuat style, dan mengaransemen sebuah lagu. Sebuah aransemen dibuat dengan alat ini satu demi satu , atau istilahnya layer demi layer. Pola-pola instrumen drum, gitar, bass, dan variasinya ketika masuk chorus, bridge, atau coda dibuat satu per satu. Ketika sudah jadi, semua layer digabungkan menjadi satu menjadi sebuah aransemen musik yang bisa dimainkan oleh keyboard.

CLAUDIO ARRAU


Claudio Arrau, renowned throughout the world as one of the supreme keyboard masters of the century, stands today at the summit of his long and legendary career, for the one artistic goal he has pursued for a lifetime: the total fusion of virtuosity and meaning.

Where other famous pianists play the piano for excitement, power or display, Arrau plays to probe, to divine, to interpret. Says Arrau, "An interpreter must give his blood to the work interpreted."

The famed late doyen of London music critics, Sir Neville Cardus of the Guardian, explained Arrau vividly: "Arrau is the complete pianist. He can revel in the keyboard for its own pianistic sake, representing to us the instrument's range and power, but he can also go beyond piano playing as we are led by his art to the secret chambers of the creative imagination."

In a tribute by the Berlin Philharmonic, which bestowed the Hans von Bulow Medal on Arrau in 1980, on the occasion of the 60th Anniversary of his debut with that great orchestra, it was put even better: "When Arrau bends over the keyboard, it is as if Music and only Music itself, is flowing out of his entire body. There is not a nuance of feeling or sound that he has not mastered. His pianissimo is more eloquent, more mysterious than that of others, and his fortissimo has more depth of dimension and is more limitless."

But a London Sunday Times interview some years back explained the Arrau mystique best of all: "One regards him as a sort of miracle; the piano is the most machinelike of instruments except the organ - all those rods, levers, little felt pads, wires, no intimate subtle human connection with it by breath, tongueing, or the string player's direct engagement with speaking vibrations. But Arrau makes it live, like God teaching Adam on Michelangelo's Sistine Chapel roof; liquid, mysterious, profound, alive."

At 86, Arrau today is a legend in his own lifetime, not only for the penetrating profundity of his interpretations, but for a still transcendent virtuosity completely at the service of his art. Explains Arrau: "Since in music we deal with notes, not words, with chords, with transitions, with color and expression, the musical meaning always based on those notes as written and nothing else - has to be divined. Therefore any musician, no matter how great an instrumentalist, who is not also an interpreter of a divinatory order, the way Furtwangler was, or Fischer-Dieskau is, is somehow onesided, somehow without spiritual grandeur."

Arrau is definitely not onesided or without spiritual grandeur. Having won particular fame as a great Beethoven interpreter, he is no less celebrated for his Mozart, Schubert, Chopin, Liszt, Schumann, Brahms and Debussy. Among the famed peers of his generation, it is a range without equal.

As a Beethoven interpreter, Arrau has played cycles of the sonata and concertos throughout the world. During the Beethoven Bicentennial Year, he played the five piano concertos in London for the fifth time around and the "Emperor" Concerto in New York, London, Berlin, at the Casals Festival, at the Bonn Festival and Beethoven recitals everywhere, including New York, London, Paris, Berlin, Amsterdam and Zurich. He has played cycles of the complete 32 piano sonatas in New York, London, Buenos Aires, Berlin, Mexico City and most of the sonatas in Zurich, Paris and Hamburg.

The Arrau discography is equally vast. His recordings include the 32 Beethoven Piano Sonatas, the five Beethoven Piano Concertos (thrice), the two Brahms Concertos (twice) and the complete works for piano and orchestra by Chopin - all on Philips Records and released throughout the world. He has also recorded a great many of the solo works of Chopin, Schumann, Brahms, Debussy, Schubert and Liszt, including the awesome 12 Transcendental Etudes, a feat which he pulled off in time for his 75th birthday celebrations. Since then, he has recorded the Tchaikovsky Piano Concerto No. 1 with the Boston Symphony under Sir Colin Davis, the Liszt Concertos and (for the fourth time around) the Grieg and Schumann Concertos, also with the Boston Symphony under Sir Colin Davis. For his 80th birthday celebrations in 1983, Philips Records brought out The Arrau Edition, 59 records in 8 deluxe boxes, CBS brought out a 3-record Retrospective box as did EMI, and RCA later brought out a 2-CD set consisting of Bach's "Goldberg" Variations and the Chromatic Fantasy and Fugue, recorded in 1941. Recently, he recorded the Beethoven Piano Concertos for the third time around, this time with the Dresden Staatskapelle under Sir Colin Davis, 12 new Beethoven Sonatas (which may form a new set of the 32), the Diabelli Variations and the complete Mozart Piano Sonatas.

Without giving up Liszt, Arrau gravitated to Beethoven. Textual fidelity and freedom of expression became his two guiding principles. In starving Germany, he managed to keep himself and his family alive, and by the time he won the famed International Geneva Prize in 1927, when he was 24 (the judges were Cortot, de Motta and Arthur Rubinstein), the great composers - Bach, Beethoven, Mozart, Schubert - had become his life. By the time Arrau was 32, he had not only played the 32 Beethoven Sonatas and all the Schubert and Mozart Sonatas as well as Weber in cycles of concerts, but also, all of the keyboard works of Bach in a series of 12 recitals which made him a legend in Berlin.

During that time, he was also playing Schumann, Brahms, Chopin, Liszt, Debussy, Albeniz, Ravel and Schoenberg, leading the chief music critic of the London Times, William Mann to write years later after World War II, "There are pianists who rank as outstanding in Bach, Mozart, Beethoven, Chopin and Liszt. Arrau is the only pianist alive who, at any rate while he is playing, can convince people that he is the outstanding interpreter of all these composers and a good many others too."

By the time Arrau returned to play at Carnegie Hall again, in February 1941, he felt ready and mature, and this time, his name had preceded him and the house was packed. The New York Times, along with every other paper including Time Magazine, gave him rave reviews. The following season he played over 100 concerts across the United States and Canada and had the additional distinction of being invited back to play twice in that same season with both the Boston and Chicago Symphony Orchestras.

Today, Arrau's schedule of concerts still covers two and three continents and sometimes even more, as it did in 1958 when his world tour included the Soviet Union, Japan, Australia and New Zealand, as well as Europe, Israel, the United States, Canada, Mexico and South America - a tour which he repeated for the most part in 1974-75. In fact, with the exception of Peking, there is probably not an important city, large or small, anywhere in the world where Arrau has not been heard. During the 1981-82 season, in addition to the United States, Canada, Europe and Brazil, he also made his fifth return to Japan, capping it with a sixth triumphant return to Japan and South Korea in May 1987.

During 1982-83, the whole world of music joined in celebrating the Maestro's 80th birthday. His Avery Fisher Hall recital at Lincoln Center in February was the official birthday celebration and was televised as was the concert with the Philadelphia Orchestra under Riccardo Muti on the actual birthday, February 6th. There were also TV documentaries both in London and Germany. He also picked up a new batch of birthday honors and prizes, including the International UNESCO Music Prize for 1983, the National Arts Prize from Chile, the Aztec Eagle from Mexico, a Commandatore from the Accademia di Santa Cecilia in Rome and a Commandeur de la l'Legion de Honneur, France's highest decoration.

As part of the continuing 80th birthday celebrations, Arrau returned to his native Chile in May 1984 as a symbol of peace after an absence of 17 years, to play as he said, "For a whole new generation which has never heard me," and was given a reception probably without equal since the time of Paderewski's return to Poland after World War I and Liszt's return to Hungary under the Austrians in 1839. As the New York Times reported in a long story which was given an alert on the front page, Arrau dominated the local newspapers for weeks and his concerts in Santiago (six in eleven days) were seen and heard on TV by 80% of the nation. Until recently playing up to 100 concerts each season, Arrau has now reduced the number to around 50, leaving himself more time to record, study and read, a lifelong passion. His fervent wish: "Another hundred years just to read."

His 85th birthday, on February 6, 1988, was another occasion for world celebration, winding up with a grand "Emperor" Concerto in London, under the direction of Sir Colin Davis, which was televised and will be brought out on video disc together with the Beethoven Concerto No. 4 under Riccardo Muti. Since 1941, Arrau and his late wife Ruth, made Douglaston, New York, their home base and also a summer home in Vermont, where he loves to retreat for rest and quiet, sometimes with his children and grandchildren and always with his beloved cats and dogs. Arrau became an American citizen in February 1979, but retains dual passports.

In 1978, Arrau completed a new Urtext Edition of the Beethoven Piano Sonatas for the famous music publishing house of Peters in Frankfurt. A performing edition, the first by a famous Beethoven interpreter since Schnabel's in 1935, it includes all the Arrau fingerings, as well as tempi by Beethoven (where available), Czerny and Arrau and suggestions for dynamics, pedalings and performance practice.

Claudio Arrau was born in Chillan Chile, on February 6, 1903 and like most of history's great pianists, was a child prodigy. His mother was an amateur pianist and his father an eye doctor, who died in a riding accident when Arrau was one-year old. In order to support herself and her three young children, Lucretia Leon de Arrau, an indomitable woman, began to give piano lessons. Claudio, her youngest, was allowed to sit in so she could keep an eye on him and the result was that he could read notes before he could read words. By five, the boy gave recitals both in Chillan and in Santiago and by seven, he and his entire family, including an aunt, were on their way to Berlin (the musical Mecca of that time) where the young piano genius was to study on a Government grant (by an act of the Chilean Congress) over the next ten years. In Berlin, after blundering around for two years with wrong teachers, Arrau, at ten, finally found the teacher he needed. He was Martin Krause, a pupil of Liszt's, a famous music critic and the friend of all the great musicians of his time. Between the young boy and the grand pedagogue, it was love at first sight. For Arrau, Krause became the father he never had and to Krause, Arrau was the pupil he had been searching for. "He will be my masterwork," said Krause, who also taught Edwin Fischer.

In Berlin, the young boy heard all the great pianists of the day; Terese Carreno, d'Albert and later, Busoni, and they all became his idols, especially Carreno and Busoni. At 15, when Krause died from the great flu epidemic of1918, Arrau was 1eft without a teacher. But so much had been imparted to him that he preferred to go on by himself, winning the famed Liszt Prize twice in a row at ages 16 and 17.

Thus, when Arrau, at 20, arrived for his Carnegie Hall debut on October 20, 1923, he was already a seasoned artist who had played throughout Europe since the age of 11, had appeared with Nikisch in Leipzig at 12, and at 17, had made smash debuts both in London (at the Royal Albert Hall) and in Berlin with the Berlin Philharmonic under Karl Muck.

Arrau had come to the United States for a promised tour of 30 dates and found himself with only five (in those days things like that happened even to veterans like Carreno and Busoni): three concerts in New York and appearances with the Boston and Chicago Symphonies. Boston under Monteux and Chicago under Stock were splendid. Carnegie Hall, with the house mostly empty, was far less so. Arrau, thinking himself a failure, returned home to Berlin no richer than he had come, and that, he says today, was probably the best thing that could have happened to him at the time, artistically-wise.

Berlin, after World War I, was boiling over with new ideas. The time of the salon pianists was about over, musicology was a new discipline and great Beethoven interpreters were coming to the fore who were to transform the art of piano playing in our time. The spirit of Busoni, d'Albert and Ansorge were still everywhere, Schnabel and Edwin Fischer were on the rise, and both freedom of expression and fidelity to the text were the order of the day.

Tips Balajar Piano

Belajar piano butuh kesabaran dan ketekunan. Tidak mungkin belajar piano baru beberapa bulan saja tiba-tiba langsung pintar dan lihai bermain piano. Perlu dipahami, kalau mau pintar bermain piano tidak instan, belajar piano butuh waktu dan tergantung kemauan, latihan, bakat dan potensi. Semakin rajin latihan dan tekun belajar maka progresnya (kemajuannya) semakin cepat. Kalau malas belajar piano, malas latihan, yah… kemajuannya pun lambat, jangan berharap bisa cepat bermain piano dengan baik sedangkan latihannya malas-malasan.
Tips Belajar Piano:
-         Sediakan waktu luang dalam sehari minimal 1 jam. Belajar piano sehari 1 jam dan rutin setiap hari adalah lebih baik daripada belajar piano sekaligus sehari  5 jam tapi besoknya berturut-turut selama satu minggu tidak latihan lagi.
-         Bila suatu waktu berjam-jam belajar piano dan jenuh, istirahatlah sejenak, setelah fresh dan segar lanjutkan belajar piano nya.
-         Belajar piano dengan cara yang benar sesuai dengan aturan yang diberikan oleh guru piano. Misalnya diawali dengan 10 menit pemanasan latihan jari dengan melancarkan tangga nada, 40 menit membaca notasi balok, 15 menit latihan improvisasi dst.
-         Jangan mudah menyerah dan patah semangat kalau mumet atau ribet dalam melancarkan suatu lagu/teknik tertentu, latihlah dengan tekun dan sabar.
-         belajar piano Jangan terburu-buru, belajar membaca not / belajar suatu lagu harus diawali dengan tempo yang lambat, jangan langsung tempo sesungguhnya atau langsung tempo cepat. Harus sabar! Latih dengan tempo lambat dulu, bila sudah lancar dan tekniknya benar maka ulangi lagi lagunya dengan tempo sedikit dipercepat, begitu seterusnya hingga akhirnya sesuai dengan tempo aslinya.
-         Belajar piano dengan disiplin dan metode yang benar selalu membuahkan hasil yang memuaskan.

CARA BERMAIN PIANO


Posisi duduk => main piano tidak asal duduk tanpa aturan. Posisi duduk harus rilex, tegak dan tidak bungkuk

Posisi lengan => sejajar dengan tuts piano, rileks dan tidak tegang

Contoh posisi lengan yang salah => menyebabkan bentuk posisi jari menjadi tidak benar

Bentuk  jari tangan => bulat melengkung (seperti pada gambar dibawah ini)

Bentuk posisi jari tangan yang salah => main piano dengan bentuk jari yang salah mengakibatkan jari tidak leluasa menari diatas tuts dan mengganggu kualitas tone (bunyi nada) yang dihasilkan oleh tekanan jari dan juga tidak sedap dipandang mata.

Cara menekan tuts => pada saat menekan tuts dengan salah satu jari, maka jari lain (jari yg tidak menekan tuts) tidak tegang tetapi tetap pada bentuk semula.

* Contoh gambar diatas :  jari kelingking menekan tuts, maka jari lain tidak tegang / tidak terangkat keatas (tetap pada bentuk posisi semula).
Menekan tuts yang salah => Menekan tuts dengan salah satu jari sementara jari lain tegang dan terangkat ke atas.